"Karena bagiku, hal terberat dalam hidup adalah ketika aku harus berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan diriku sama sekali."
Intan Kirana dalam Prosa Layang-Layang (via kuntawiaji)
(via satriditya)
Intan Kirana dalam Prosa Layang-Layang (via kuntawiaji)
(via satriditya)
Note to My Self
Achmad Lutfi (via achmadlutfi)
Neil DeGrasse Tyson (via onlinecounsellingcollege)
#NTMS
(via kuntawiaji)
Siapakah yang tak ingin, bila setiap mimpi dan harapannya didoakan agar terwujud dan terpenuhi? Disuguhi kalimat-kalimat dorongan penuh semangat, hingga bahkan tawaran bantuan agar cita-cita itu tak hanya sekedar impian?
Tentu, tentu tiada hati yang menolak untuk dipayungi keteduhan dalam mengarungi masa-masa terik perjuangan. Langkah kaki, biar kecil, biar tak melulu diajak berlari, namun setidaknya mampu bertahan menjejaki petualangan yang kadang seakan tak tampak dimana ujungnya.
Godaan untuk berhenti sama sekali, rayuan yang berbisik-bisik agar mengubah haluan, sering kali datang sekehendaknya. Saat kita tegar, ia hanya serupa angin lalu yang bertiup sesekali. Namun dalam masa-masa kritis, tiba-tiba hadirnya begitu sulit untuk diabaikan. Mendadak ia menjadi penting. Mengganggu bangunan mimpi yang telah lama kita rancang sebelumnya.
Tapi selalu saja ada nilai dibalik itu. Bukan tujuan yang semata-mata berharga, melainkan juga perjalanannya. Tebing yang terjal membuat lengan kita jauh lebih kuat. Melahirkan sepasang mata yang cerdik dalam memilih pegangan. Serta langkah yang penuh kehati-hatian, namun berani mengambil keputusan.
Dalam berlayar menggapai impian, tak selamanya kita kan berkawan dukungan. Tatapan sinis meremehkan, kata-kata pedas merendahkan, ataupun gelak tawa mencemooh, adalah gelombang besar dalam lautan cita-cita kita. Ia pasti datang.
Namun coba saksikan seorang lelaki yang membangun bahtera itu. Bahtera yang demikian besar itu, ia bangun dengan penuh cinta dan ketekunan. Kerja yang berselimut kesabaran. Sabar dalam menitinya hingga rampung dan sempurna. Juga sabar dalam menjadi bahan ejekan dan tertawaan.
Tapi ia tetap bekerja. Bahtera itu, adalah juga bagian dari masa depannya, masa yang belum tiba, masa yang belum datang berkunjung. Hingga saat itu betul-betul hadir, nyata, segala upaya dan kerja kerasnya tak sia-sia.
Disinilah kita belajar tentang ketekunan dan kesabaran. Belajar untuk meresapi kesadaran, bahwa mimpi-mimpi kita, harapan-harapan kita, tak hanya menjanjikan wajah penuh senyum, serta dada yang lapang berbunga-bunga.
Biar saja, biar saja salju yang penuh pesona itu hadirnya ditemani dingin yang membekukan. Dan biar saja, cita-cita kita, sempurna menjadi nyata, dengan membawa ceritanya.
View high resolution
Dapet A di dunia dan akhirat..
MAU?
Barangsiapa mau berusaha pasti dapat hasilnya
Selamat Menempuh Ujian
“Saatku lelah menulis dan membaca diatas buku-buku, kuletakkan kepala dan saat pipiku menyentuh sampulnya, hatiku tersengat. Kewajibanku masih berjebah, bagimana mungkin aku beristirahat?” (Imam Nawawi)
FSI FE UI 2013 - Forum Studi Islam Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
(via ceritasebelumtidur)
Pa Yudi Darma (via nayasa)
(via nayasa)